KONSEP DASAR
1. Definisi
Penyakit jantung koroner (PJK) sebagai salah satu bentuk dari penyakit jantung dan pembuluh darah, merupakan penyakit yang melibatkan gangguan pembuluh darah koroner, pembuluh darah yang mensuplai oksigen dan zat makanan pada jantung. Kelainan dapat berupa penyempitan pembuluh koroner yang disebabkan karena aterosklerosis. Aterosklerosis terjadi akibat penimbunan kolesterol, lemak, kalsium, sel-sel radang dan material pembekuan darah (fibrin). Timbunan ini disebut dengan plak. (Sukandi E., 2008).
Penyakit JantungKoroner (PJK) adalah keadaaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan
otot jantung atas oksigen dengan penyediaan yang di berikan oleh pembuluh darah
coroner (Mila, 2010).
2. Etiologi
Penyakit jantung koroner disebabkan karena ketidak seimbangan antara kebutuhan O2 sel otot jantung dengan masukannya. Masukan O2 untuk sel otot jantung tergantung dari O2 dalam darah dan pembuluh darah arteri koroner. Penyaluran O2 yang kurang dari arteri koroner akan menyebabkan kerusakan sel otot jantung. Hal ini disebabkan karena pembentukan plak arteriosklerosis. Sebab lain dapat berupa spasme pembuluh darah atau kelainan kongenital.
Iskemia (kerusakan) yang berat dan mendadak akan menimbulkan kematian sel otot jantung yaitu disebut infark jantung akut yang irreversibel (tidak dapat sembuh kembali). Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung dengan manifestasinya adalah nyeri.
3. Faktor risiko
a. Usia
Sebagian besar kasus kematian terjadi pada laki-laki umur 35-44 tahun danmeningkat dengan bertambahnya umur. Juga didapatkan hubungan antara umurdan kadar kolesterol yaitu kadar kolesterol total akan meningkat dengan bertambahnya umur. (Yuniadi Y,2007)
b. Jenis Kelamin
Di Amerika Serikat gejala PJK sebelum umur 60 tahun didapatkan pada 1 dari 5 laki laki dan 1 dari 17 perempuan. Ini berarti bahwa laki-laki mempunyai risiko PJK dua hingga tiga kali lebih besar daripada perempuan. (Yuniadi Y,2007)
c. Faktor Genetik
Hipertensi dan hiperkolesterolemi dipengaruhi juga oleh faktor genetik. Sebagian kecil orang dengan makanan sehari-harinya tinggi lemak jenuh dan kolesterol ternyata kadar kolesterol darahnya rendah, sedangkan kebalikannya ada orang yang tidak dapat menurunkan kadar kolesterol darahnya dengan diet rendah lemak jenuh dan kolesterol akan tetapi kelompok ini hanya sebagian kecil saja. Yuniadi Y,2007)
d. Obesitas
Obesitas akan mengakibatkan terjadinya peningkatan volume darah sekitar 10 - 20 %, bahkan sebagian ahli menyatakan dapat mencapai 30 %. Hal ini tentu merupakan beban tambahan bagi jantung, otot jantung akan mengalami perubahan struktur berupa hipertropi atau hiperplasia yang keduanya dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pompa jantung atau lazim disebut sebagai gagal jantung atau lemah jantung, dimana penderita akan merasakan cepat lelah, sesak napas bila melakukan aktifitas ringan, sedang ataupun berat (tergantung dari derajat lemah jantung). T.B.A,2004)
e. Hipertensi
Tekanan darah tinggi mengakibatkan jantung bekerja keras hingga pada suatu saat akan terjadi kerusakan yang serius. Pada jantung otot jantung akan menebal (hipertrofi) dan mengakibatkan fungsinya sebagai pompa menjadi terganggu, selanjutnya jantung akan dilatasi dan kemampuan kontraksinya berkurang. (Djohan T.B.A,2004)
f. Merokok
Merokok dapat merangsang proses aterosklerosis karena efek langsung terhadap dinding arteri. Karbon monoksida (CO) dapat menyebabkan hipoksia jaringan arteri, nikotin menyebabkan mobilisasi katekolamin yang dapat menambahkan reaksi trombosit dan menyebabkan kerusakan pada dinding arteri, sedangkan glikoprotein pada tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif dinding arteri. (Kusmana D. dan Hanafi M., 1996).
g. Diabetes Mellitus
Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah.
4. Patofisiologi
Pembuluh darah arteri seperti juga organ-organ lain dalam tubuh mengikuti proses umur dimana terjadi proses yang karekteristik seperti penebalan lapisan intima, berkurangnya elastisitas penumpukan kalsium dan bertambahnya diameter lapisan intima. Perubahan ini terjadi terutamanya pada arteri-arteri besar yang disebut arteriosklerosis. Pembuluh koroner terdiri dari 3 lapisan yaitu tunika intima (lapisan dalam), tunika media (lapisan tengah), dan tunika adventisia (lapisan luar).
Tunika intima terdiri dari 2 bagian. Lapisan tipis sel-sel endotel merupakan lapisan yang memberikan permukaan licin antara darah dan dinding arteri serta lapisan subendothelium. Sel-sel endotel ini memproduksikan zat-zat seperti prostaglandin, heparin dan activator plasminogen yang membantu mencegah agregasi trombosit dan vasokonstriksi. Selain itu endotel juga mempunyai daya regenerasi yang cepat untuk memelihara anti trombogenik arteri. Jaringan ikat menunjang lapisan endotel dan memisahkannya dengan lapisan yang lain.
Tunika media merupakan lapisan otot di bagian tengah dinding arteri yang mempunyai 3 bagian : bagian sebelah dalam disebut membran elastis internal, kemudian jaringan fibrus otot polos dan sebelah luar membrane jaringan elastis eksterna. Lapisan tebal otot polos dan jaringan kolagen, memisahkan jaringan membran elastik interna dan yang terakhir ini memisahkan tunika media dengan adventisia. Tunika adventisia umumnya mengandung jaringan ikat dan dikelilingi oleh vasa vasorum yaitu jaringan arteriol.
Berdasarkan hasil otopsi mayat dalam berbagai usia didapati pada pembuluh koroner terlihat penonjolan yang diikuti dengan garis lemak (fatty streak) pada intima pembuluh yang timbul sejak umur di bawah 10 tahun. Garis lemak ini mula-mula timbul pada aorta dan arteri koroner. Pada umur 20 tahun ke atas garis lemak ini dapat terlihat hampir pada setiap orang. Garis lemak ini akan tumbuh menjadi fibrous plaque yaitu suatu penonjolan jaringan kolagen dan selsel nekrosis. Lesi padat, pucat dan berwarna kelabu disebut ateroma. Plak fibrous ini timbul pada umur tiga puluhan. Pada umur diatas 40 tahun timbul lesi yang lebih kompleks dan timbul konsekuensi klinis seperti angina pektoris, infark miokard, dan mati mendadak (sudden death). Lesi kompleks terjadi apabila pada plak fibrus timbul nekrosis dan terjadi perdarahan thrombosis, ulserasi, kalsifikasi atau aneurisma.
Dalam keadaan normal arteri koronaria dapat mengalirkan darah hampir 10% dari curah jantung per menit yaitu kira-kira 50-75 ml darah per 100 gram miokard. Dalam keadaan stress atau latihan maka timbul aliran cadangan koroner (coronary flow reserve) dimana aliran koroner bisa sampai 240ml per 100 gram miokard. Pada keadaan stenosis maka aliran cadangan koroner dapat mempertahankan aliran basal (basal flow) di sebelah distal stenosis. Pada stenosis 70% atau lebih tetap saja aliran distal stenosis (distal flow) tidak mencukupi pada saat stress atau latihan, sehingga menyebabkan iskemia. (Kusmana D. dan Hanafi M. 1996).
5. Manifestasi klinik
a. Asimptomatik ( Silent Myocardial Ischemia )
b. Angina Pektoris.
- Angina Pektoris Stabil
- Angina Pektoris Tidak Stabil
- Variant Angina ( Prinzmetal Angina )
c. Infark Miokard Akut
d. Dekompensasi Kordis
e. Aritmia Jantung
f. Mati Mendadak
- Angina Pektoris Stabil
- Angina Pektoris Tidak Stabil
- Variant Angina ( Prinzmetal Angina )
c. Infark Miokard Akut
d. Dekompensasi Kordis
e. Aritmia Jantung
f. Mati Mendadak
6. Pemeriksaan penunjang
- EKG : gelombang T terbalik, elevasi segmen ST
- Pemeriksaan radiologi : pembesaran ventrikel ST
- Echocardiografi
- Pemeriksaan Lab : kolesterol, trigliserida meningkat
7. Penatalaksanaan
Modifikasi Gaya Hidup
a. Diet tinggi serat, rendah kolesterol/lemak, rendah garam
b. Menurunkan berat badan
c. Berhenti merokok / konsumsi alkohol
d. Olahraga teratur
Pengobatan
a. Obat modifikasi kolesterol. Dengan mengurangi jumlah kolesterol dalam darah, terutama low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol "buruk" , obat-obatan ini mengurangi bahan utama yang menumpuk pada arteri koroner. Meningkatkan high-density lipoprotein (HDL), atau kolesterol "baik", mungkin membantu juga. Dokter dapat memilih dari berbagai obat, termasuk statin, niasin, asam empedu fibrates dan sequestrants.
b. Aspirin. Hal ini dapat mengurangi kecenderungan darah untuk membeku, yang dapat membantu mencegah penyumbatan arteri koroner. Jika anda pernah mengalami serangan jantung, aspirin dapat membantu mencegah serangan di masa depan. Ada beberapa kasus di mana aspirin tidak sesuai, seperti jika memiliki kelainan pendarahan dimana sudah menggunakan pengencer darah lain, jadi tanyalah dokter Anda sebelum meminum aspirin.
c. Beta bloker. Obat-obatan ini memperlambat denyut jantung dan menurunkan tekanan darah, yang menurunkan permintaan oksigen jantung. Jika pernah mengalami serangan jantung, beta blocker mengurangi risiko serangan di masa depan.
d. Nitrogliserin. Nitrogliserin tablet, semprotan dan koyo dapat mengontrol nyeri dada dengan membuka arteri koroner dan mengurangi permintaan jantung untuk darah.
e. Penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE). Obat-obatan ini menurunkan tekanan darah dan dapat membantu mencegah perkembangan penyakit arteri koroner. Jika anda pernah mengalami serangan jantung, ACE inhibitor mengurangi risiko serangan di masa depan.
f. Calcium channel blocker. Obat-obat ini melemaskan otot-otot yang mengelilingi arteri koroner dan menyebabkan pembuluh terbuka, meningkatkan aliran darah ke jantung. Mereka juga mengendalikan tekanan darah tinggi.
Pengobatan yang lebih agresif diperlukan untuk memperbaiki aliran darah:
a. Trombolitik. Efektif diberikan dalam waktu < 12 jam setelah keluhan nyeri dada dan usia pasien < 75 tahun.
b. Prosedur invasif non operatif. Dapat dilakukan intervensi koroner perkutan primer, dilakukan < 6 jam setelah mengalami serangan. Selain itu dapat dilakukan bila terapi trombolitik gagal.
c. Operasi bypass arteri koroner
8. Pencegahan
a. Berolah raga teratur, untuk membantu pembakaran lemak dan menjaga agar peredaran darah tetap lancar. Dapat melakukan kegiatan olahraga seperti berjalan kaki, jalan cepat atau jogging.
b. Mengurangi konsumsi makanan berlemak / berkolesterol tinggi dan meningkatkan konsumsi makanan tinggi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
c. Menurunkan berat badan hingga mencapai berat badan ideal.
d. Cukup istirahat dan kurangi stress. Saat seseorang mengalami stres, tubuhnya akan mengeluarkan hormon cortisol yang menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku. Hormon norepinephrine akan diproduksi tubuh saat menderita stres dan akan mengakibatkan naiknya tekanan darah.
e. Hindari rokok, kopi dan minuman beralkohol.
f. Melakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala untuk memantau kadar kolesterol dalam darah.
Terimaksih sudah membaca askep jantung koroner semoga bermanfaat untuk anda